Kamis, 05 Mei 2016

Tugas Bahasa Indonesia 2 Resensi Novel




BAB I

Judul                            : My Idiot Brother
Penulis                         : Agnes Davonar
Penerbit                       : Inandra Published
Tempat Terbit              : Jalan TPI 2 nomor 6, Jakarta
Tahun Terbit                : November 2011
Halaman Buku             : 267 halaman
ISBN                          : 978-979-18346-8-1


BAB II

    Angel seorang gadis yang cantik tapi selalu malu terhadap Hendra karena kakaknya itu mengalami cacat mental.Semenjak Angel memaski sekolahnya, ia selalu dicaci maki oleh Agnes dan kawan-kawan yang mengetahui keadaan Hendra, Kakaknya sehingga seluruh kelas tau keadaann kakaknya dan ikut menghina dirinya.Aji, seorang murid baru yang tampan, pintar bermain basket (sama dengan Angel) datang ke sekolah.    Aji mulai tertarik dengan Angel karena memiliki hobi yang sama. Sementara Agnes dan teman-temannya merasa tidak terima dan mengancam Angle akan memberi tahu keadaan Hendra kepada Aji.Aji mengundang    Angel ke pesta ulang tahunnya. Angel ingin membelikan hadiah untuk Aji tapi ia tidak mempunyai uang karena ia tidak pernah menabung uang jajannya. Hendra memberikan seluruh uang tabungannya untuk Angel.    Akhirnya Angel membelikan sebuah helm kerem untuk Aji. Saat ulang tahun Aji, Angel lupa membawa hadiahnya. Ia berniat untuk kembali dan mengambil hadiah untuk Aji, tapi Hendra sudah lebih dulu mengantarkannya. Karena malu Aji mengetahui bahwa kakaknya cacat mental, Angel berlari dan akhirnya tertabrak oleh sebuah mobil.Angel dilarikan ke rumah sakit dan kehilangan banyak dara sementara stok kantung darah sudah habis. Hendra mendonorkan darahnya walau itu membahayakan hidupnya. Ia ingat bahwa besok adalah hari ulang tahun adiknya. Ia membuat surat kepada adiknya karena ia tidak mempunyai uang untuk membelikan boneka babi yang biasa dibelinya saat Angel ulang tahun, saat ingin menyimpan surat itu, kepala Hendra terbentur dan tak lama kemudian ia meninggal. Angel menemukan surat dari kakaknya dan menangis.ia menyadari bahwa Hendra adalah segalanya. Hendra mungkin bukan kakak yang sempurna, tapi ia adala kakak terbaik yang diciptakan tuhan untuk ada di sampingya sebagai malaikat yang mencintai dan menyelamatkan hidup Angel.

BAB III

Penokohan
  a) Angel     : cantik, pintar bermain basket, pemarah, tidak sopan, selalu malu terhadap keadaan Hendra, Kakaknya yang mengalami cacat mental.
b)Hendra     : mengalami cacat mental, gendut, baik hati, dermawan, pemaaf,selalu sayang pada adiknya dan rela menyelamatkan hidup adiknya.
c)Ibu Angel  : baik hati, perhatian, penyayang.
d)Agnes       : kurus, tinggi, langsing, suka menghina, pendengki, tidak sopan.
e)Aji            : baik hati, pintar main basket, ramah, bersahabat.

BAB IV

Simpulan
Terkadang kita tidak akan menyadari kehilangan sebelum benar-benar terjadi.seorang kakak mungkin tidak sempurna, tapi ia adala kakak terbaik yang diciptakan tuhan untuk ada di samping kita sebagai malaikat yang mencintai kita.

Rabu, 20 April 2016

Kata Asing Yang Di Serap Ke Dalam Bahasa Indonesia


  • Application = Aplikasi
  • Actor = Aktor
  • Aquarium = Akuarium
  • Allergy = Alergi 
  • Account = Akun
  • Aerobic = Aerobik
  • Ballpoint = Bolpen
  • Bomb = Bom
  • Bus = Bis
  • Boss = Bos
  • Balloon = Balon
  • Business = Bisnis
  • Book = Buku
  • Calculator = Kalkulator
  • Cartoon = kartun
  • Cellular = Seluler
  • Coin = Koin
  • Coffee = Kopi
  • Community = Komunitas
  • Copy = Salin
  • Conglomerate = Konglomerat
  • Conducive = Kondusif
  • Detail = detail 
  • Data = Data 
  • Design = Desain
  • Discount = Diskon
  • Director = Direktur
  • Dimension = Dimensi
  • Edition = Edisi
  • Ecology = Ekologi
  • Embryo = Embrio
  • Erosion = Erosi
  • Export = Ekspor
  • Essay = Esai
  • Enzyme = Enzim


Rabu, 13 April 2016

Tugas Bahasa Indonesia 2 Resensi Novel



BAB I

Judul          : Pulang

Penulis        : Tere Liye

Penerbit       : Republika Penerbit

Kota terbit    : Jakarta

Cetakan VII   : November 2015

BAB II

“Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” Begitu Tere Liye membuka cerita dengan amat elegan.

“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu (dari makanan dan minuman haram dan kotor) itu, Bujang. Agar…. Agar besok luka, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” (Halaman 24)

“Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka menjadi kecoa hitam dan menjijikan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap. Kami tidak dikenal oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak diliput media massa….. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap sandiwara kehidupan orang-orang. (Halaman 30)

BAB III

 Tema yang dihadirkan mengandung unsur kebaruan. Masalah ekonomi dihubungkan dengan dunia tukang pukul. Lebih jauh lagi dikaitkan dengan unsur relijius serta perjuangan dan nilai kepahlawanan. Pertautan yang tampak “mustahil” itu diracik sedemikian rupa oleh penulis menjadi racikan yang apik, sudut pandang yang ciamik. Penulis lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengungkapkan hal yang seolah maya (shadow economy) dengan amat gamblang dan terperinci. Tentu perlu riset yang amat dalam untuk menguak tabir itu.

         Meski harus diakui genre ini (ekonomi berbalut action), mengingatkan kita pada novel Tere Liye sebelumnya, Negeri Para Bedebah  dan Negeri di Ujung Tanduk.  Namun jelas Pulang hadir dengan suasana baru. Unsur lokalitas, dalam hal ini pedalaman Sumatra, dan unsur relijius menjadi pembeda yang nyata dengan dua novel sebelumnya itu.


Menurut hemat peresensi, inilah kekuatan utama Tere Liye: sederhana dan apa adanya. Ia tak suka merumit-rumitkan sesuatu. Pilihan katanya secara umum mudah dicerna (walau ada beberapa yang perlu membuka kamus atau googling untuk tahu artinya). Namun secara keseluruhan sangat bisa dimengerti. Bahkan yang spesial adalah kemampuan Tere Liye menjabarkan sesuatu yang njlimet (ilmu ekonomi-red) secara gamblang dan jelas. Kemampuan menyederhanakan istilah inilah daya pikat utama seorang Tere Liye sehingga ia bisa diterima banyak kalangan.

 Plot yang dihadirkan membuat pembaca penasaran untuk terus membaca kelajutan cerita. Berikut adalah contohnya.

          “Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang.” (Halaman 20). Kalimat seperti itu membuat pembaca penasaran, pertarungan hebat apa sih? Rasa penasaran tersebut menstimulus pembaca untuk terus membaca hingga tuntas, tanpa bosan.

         Selain itu alur maju mundur menambah rasa ingin tahu pembaca, baik masa lalu sang tokoh maupun cerita apa yang akan terjadi berikutnya.

        Kejutan-kejutan mengasyikan juga mewarnai novel ini. Sesuatu yang tak terbenak kemudian hadir menghentak. Contohnya adalah kejutan di bab “Tim Terbaik” dengan hadirnya White dan si kembar Yuki dan Kiko yang ternyata  punya kelindan dan hubungan dengan kehidupan Bujang sebelumnya. Dan tentu saja yang paling nendang adalah bagian pengkhianatan itu.

ah-sah saja sebenarnya bagi seorang penulis untuk menarasikan (dengan penyesuaian) beberapa cuplikan film. Hal seperti itu namanya influence (keterpengaruhan). Hal tersebut wajar. Karena di dunia ini, sejatinya, tidak ada yang benar-benar orisinal. Tentu ada unsur keterpengaruhan dari apa yang telah ada sebelumnya. Hanya saja memang, bagi sebagian orang, termasuk peresensi, beberapa adegan dalam novel ini mengingatkan pada beberapa cuplikan film action. Ingatan yang sedikit merusak kedalaman fantasi-imajinasi. Namun kekurangan itu tertutupi dengan banyaknya kejutan dan adegan hebat lain yang masih orisinal.

BAB IV

Simpulan

           Novel ini direkomedasikan bagi siapa pun yang ingin memahami makna pulang yang sesungguhnya.  Tak sekadar pulang dalam artian kembali ke rumah dan kampung halaman. Namun mengandung  makna pulang yang dalam. Pulang menuju hakikat kehidupan. Pulang ke arah kesejatian. Pulang, kembali padaNya. Pulang dengan segenap kerinduan dalam damai.

Selamat membaca!



Tugas Bahasa Indonesia 2 Resensi Novel



resensi-negeri-5-menara


BAB I

Judul                         : Negeri 5 menara

Pengarang                : A.fuadi

Penerbit                    : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit              : Tahun 2009

Jumlah halaman        : Xii + 423 halaman

Kota tempat terbit    : Jakarta

Kategori                  : Novel/Fiksi

BAB II

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Alif dari kecil sudah bercita-cita ingin menjadi B.J Habibie, maka dari itu selepas tamat SMP Alif sudah berencana melanjutkan sekolah Ke SMU negeri di Padang yang akan memuluskan langkahnya untuk kuliah dijurusan yang sesuai. Namun, Amak menginginkan Alif jadi penerus Buya Hamka, membuat mimpi Alif kandas.

Alif diberi pilihan sekolah di sekolah agama atau mondok di pesantren. Sempat marah tapi akhirnya Alif ikhlas karena alif tidak ingin mengecewakan harapan orang tua khususnya ibu, alif pun menjalankan keinginan ibunya dan masuk pondok. Atas saran dari pamannya dikairo alif kecil pun memutuskan untuk melanjutkan sekolah di pondok yang ada di Jawa Timur : PONDOK MADANI. Walaupun awalnya amak berat dengan keputusan Alif yang memilih pondok di Jawa bukan yang ada di dekat rumah mereka dengan pertimbangan Alif belum pernah menginjak tanah diluar ranah minang , namun akhirnya ibunya merestui keinginan Alif itu.

Awalnya Alif setengah hati menjalani pendidikan dipondok karena dia harus merelakan cita-citanya yang ingin kuliah di ITB dan menjadi seperti Habibie. Namun kaliamat bahasa Arab yang didengar Alif dihari pertama di PM

(pondok madani )mampu mengubah pandangan alif tentang melanjutkan pendidikan di Pesantren sama baiknya dengan sekolah umum. ” mantera” sakti yang diberikan kiai Rais (pimpinan pondok ) man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Dan Alif pun mulai menjalani hari-hari dipondok dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Di PM Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan si jenius Baso dari Gowa, Sulawesi. Ternyata kehidupan di PM tidak semudah dan sesantai menjalani sekolah biasa. Hari-hari Alif dipenuhi kegiatan hapalan Al-Qur’an, belajar siang-malam, harus belajar berbicara bahasa Arab dan Inggris di 6 Bulan pertama. Karena PM melarang keras murid-muridnya berbahasa Indonesia, PM mewajibkan semua murid berbahasa Arab dan Inggris. Belum lagi peraturan ketat yang diterapkan PM pada murid yang apabila melakukan sedikit saja kesalahan dan tidak taat peraturan yang berakhir pada hukuman yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Tahun-tahun pertama Alif dan ke 5 temannya begitu berat karena harus menyesuaikan diri dengan peraturan di PM.

Hal yang paling berat dijalani di PM adalah pada saat ujian, semua murid belajar 24 jam nonstop dan hanya beberapa menit tidur. Mereka benar-benar harus mempersiapkan mental dan fisik yang prima demi menjalani ujian lisan dan tulisan yang biasanya berjalan selama 15 hari. Namun disela rutinitas di PM yang super padat dan ketat. Alif dan ke 5 selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dibawah menara mesjid , sambil menatap awan dan memikirkan cita-cita mereka kedepan.

Ditahun kedua dan seterusnya kehidupan Alif dan rekan-rekannya lebih berwarna dan penuh pengalaman menarik. Di PM semua teman, guru, satpam, bahkan kakak kelas adalah keluarga yang harus saling tolong menolong dan membantu. Semua terasa begitu kompak dan bersahabat, sampai pada suatu hari yang tak terduga, Baso , teman alif yang paling pintar dan paling rajin memutuskan keluar dari PM karena permasalahan ekonomi dan keluarga.

Kepergian Baso, membangkitkan semangat Alif, Atang, Dulmajid, Raja dan Said untuk menamatkan PM dan menjadi orang sukses yang mampu mewujudkan cita-cita mereka menginjakkan kaki di benua Eropa dan Amerika. Kini semua mimpi kami berenamtelah menjadi nyata. Kami berenam telah  berada lima Negara yang berbeda, sesuai dengan lukisan dan imajinasi kita di awan. Aku (Alif) berada di Amerika, Raja di Eropa,  sementara Atang di Afrika, Baso berada di Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis mereka di Negara kesatuan Indonesia tercinta.  Di lima menara impian kami. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Pendengar.

Man jadda wajadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil…

BAB III

Gaya bahasa yang digunakan menggabungkan kejelian observasi seorang reporter dan kekalisan jelajah imajinasi literer dalam Negeri 5 Menara yang inspiratif. Dengan deskripsi ruang yang nyaris sempurna, A.Fuandi berhasil memetakan seluk-beluk pesantren modern yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut.  Dinamika kehidupan internal pesantren berpadu mulus dengan riuhnya suasana global di jantung peradaban modern yang serba bergegas. Sebuah Novel yang membuktikan bahwa tak ada hal yang tak bisa dicapai manusia di dalam hidupnya. MAN JADDA WA JADDA. 

BAB IV

KEUNGGULAN

4.1  TEMA

A.Fuandi berhasil membuat banyak orang ingin tahu lebih dalam tentang dunia pesantren sebagai pusat keunggulan, termasuk kalangan non-muslim. Penelusuran jejak-jejak pesahabatan dan pencapaian cita-cita diramu dalam kisah yang sekaligus melibatkan petualangan, religi, dan wawasan yang mengesankan.

Gontor menanamkan berbagai nilai-nilai pendidikan, nilai kejuangan, nilai kebersamaan, sehingga murid-murid terdidik secara total untuk berkarya penuh totalitas di masyarakat. Kata “man jadda wa jadda”  akan senantiasa memotivasi setiap anak dan akan melahirkan kesuksesan dimasa depan mana kala diikuti dengan kreatifitas, ketabahan dan keikhlasan.

4.2      ALUR

Maju – mundur (campuran)

Dimana tokoh utama (Alif Fikri) kilas balik dari ingatannya  akan masa silam ketika menimbah ilmu di Pondok Madani hingga membuahkan hasil yang menyenangkan dimasa kini. Sangat bagus dan menarik, sehingga membuat pembaca sulit menebak peristiwa yang terjadi selanjutnya. Dan juga bisa membuat pembaca penasaran serta mengundang antusias pembaca untuk membaca novel ini. Dan, berkesinambungan. Tidak terpecah berantakan. Disini, pengarang menggunakan alur sorot balik. Pembaca tidak akan bosan membaca kehidupan di pondok karena penulis menggunakan alur campuran. Ia memulai cerita dengan mengambil setting Alif yang sudah bekerja lalu mulai masuk ke dalam ingatan-ingatan Alif akan kehidupannya dulu di Pondok Madani. Setelah cukup panjang menceritakan tentang pondok, ia mulai beralih lagi ke kehidupan Alif masa sekarang.

4.3      LATAR

Waktu       : “Sehabis Isya, murid-murid berbondong-bondong memenuhi aula.”

Tempat    : “Al-Baraq adalah bangunan memanjang dengan koridor berbentuk huruf L.”

Suasana  : “ Dia menyampaikan semua komentar dalam bahasa Arab, larena minggu ini minggu wajib berbahasa Arab.”

4.4  PENOKOHAN/WATAK

Alif Fikri              : Tabah dan Sabar (“sabar, kita harus menghadapi hukuman ini dengan sabar”).

Dulmajid             : Ia dari Sumenep, Madura. Seorang pemain bulutangkis, rekan latih tanding Ustad Torik. Lucu, nekad (“Hah, ayo kita gotong terus masih ada waktu 5 menit” ).

Raja Lubis           : Ia dari  Medan. Ia adalah anggota English Club dan seorang orator yang hebat. Penghafal keras, gampang bingung (“Aku tidak berani melihat anak perempuan,  karena akan mengganggu hafal Al-qur’an” ).

Baso Salahudin  : Dari Gowa, Sulawesi. Terkenal karena memori fotografis dan Bahasa Arab yang fasih. Ia meninggalkan Pondok  Madani saat kelas lima untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Al-Qur`an di kampung halamannya.  Pintar dan pengertian (“ayo ujian akan dilaksanakan 3 hari lagi, kita harus belajar keras” ).

Atang Yunus      : Dari Bandung. Seorang yang mencintai seni dan teater  pendiam, tidak berani aneh – aneh  (“aku sangat tidak bilang kepada ketua jasus itu, karena aku takut di hukum lagi” ).

Said Jufri          : Dari Surabaya. Ia sangat terobsesi dengan bodybuilding dan mengidolakan Arnold Schwarznegger.

Ustad Salman  : Wali kelas Alif. Laki-laki muda bertubuh kurus bersuara lantang.

Amak                 : Menjunjung tinggi nilai agama, tegas, baik.

Ayah/ Fikri Syafnir / Katik Parpatiah Nan Mudo : Sabar, baik, menjunjung tinggi nilai agama.

Pak Sikumbang, Pak Etek Muncak , Pak Etek Gindo Marajo, Pak Sutan, Ismail Hamzah , Burhan, Ustadz Salman , Kiai Amin Rais , Kak Iskandar Matrufi, Rajab Sujai / Tyson , Ustadz Torik , Raymond Jeffry / Randai , Ustadz Surur , Ustadz Faris , Ustadz Jamil , Ustadz Badil , Ustadz Karim , Kak Jalal , Amir Tsani , Pak Yunus , Kurdi, Ustadz Khalid , Shaliha , Sarah, Mbok Warsi , Zamzam.

4.5 AMANAT

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua atas izin Allah dan usaha manusia. Buku ini telah menjadi bukti yang inspiratif. Ditulis dalam bahasa yang ringan. Terkadang serius, lebih sering kocak. Kesimpulanya “man jadda wa jadda” artinya “yang penting usaha”. Maka Allah akan membukakan jalan ke jendela dunia.

4.6 SUDUT PANDANG

Pelaku utama Orang pertama (“Aku yang dulunya egois dan cepat marah, sekarang menjadi Alif yang bijaksana dan selalu berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu”)

4.7 GAYA BAHASA

Personifikasi (“Satu persatu kawan pun datang dari negeri 5 menara dan terkenanglah kembali masa kecil”)

KELEMAHAN

Kelemahan dari Novel Negeri 5 Menara adalah Klimaks cerita kurang menonjol sehingga para pembaca merasa dinamika cerita sedikit datar. Setelah selesai membaca, pembaca merasa cerita belum selesai setuntas-tuntasnya. Hal ini mungkin disebakan karena penulis mendasarkan ceritanya pada kisah nyata dan tidak ingin melebih-lebihkannya.

Senin, 28 Maret 2016

Tugas Bahasa Indonesia 2 Resensi Novel




Dilan (Bagian kedua)
BAB 1
Identitas Buku
Judul Buku :Dilan (Bagian Kedua)
Pengarang :Pidi Baiq
Penerbit         :Pastel Books
Tahun Terbit :2015
Jumlah Halaman :344 halaman

BAB 2
Di awal cerita, Milea menceritakan alasannya mau menerima Dilan sebagai pacarnya. Bagi Milea, meski Dilan nakal, suka berantem, dan anggota geng motor, Milea tidak peduli. Sikap Dilan kepadanya selama ini, kepribadiannya, serta pola pikir Dilan mampu mengubah keraguan Milea terhadap Dilan.pada saat pacaran.Dilan tidak mau dikekang Milea. Apalagi masalah geng motor dan tawurannya yang tidak bisa hilang dari Dilan meskipun dia sudah berpacaran dengan Milea. Meskipun, Milea pernah mengancam akan putus jika Dilan masih saja ikut tawuran.Karena tawuran ini, Dilan dikeluarkan dari sekolah dan sampai ditahan polisi selama seminggu. 

BAB 3
Pada Novel Dilan(Bagian Kedua) merupakan cerita fiksi  karena pengarang menceritakan kembali pada novel sebelum nya tapi dalam sudut pandang yang berbeda yaitu dengan menggunakan sudut pandang Milea terhadap Dilan

BAB 4
Kelebihan Novel :Penulis mengajarkan apa arti penting nya sebuah pendidikan untuk mencapai apa yang ingin dicapai
Kelemahan Novel :Ceritanya sedikit menggantung setelah Dilan putus dengan Milea sampai akhirnya Milea menikah dengan laki laki lain

Selasa, 10 November 2015

Kata DIKSI yang Baik dan Kata DIKSI yang tidak Baik

  • Contoh yang Diksi Tidak Baik



  • Contoh yang Diksi Baik




Kata DIKSI dan Kalimat Efektif


  • Diksi : Pengertian dan Macam-Macamnya
  • Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pusat bahasa Departemen Pendidikan Indonesia adalah pilihan kata yg tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Fungsi dari diksi antara lain :
  • Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
  • Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
  • Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
  • Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
  • Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans.

Macam macam hubungan makna :

  • Sinonim


Merupakan kata-kata yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.

  • Antonim.

Merupakan ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna /ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.

  • Polisemi.


Adalah sebagai satuan bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.

  • Hiponim.

Adalah suatu kata yang yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.

  • Hipernim.

Merupakan suatu kata yang mencakup makna kata lain.

  • Homonim.

Merupakan kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.

  • Homofon.

Merupakan kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.

  • Homograf.

Merupakan kata-kata yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.

  • Makna Denotasi

Makna Denotasi merupakan makna kata yang sesuai dengan makna yang sebenarnya atau sesuai dengan makna kamus.

Contoh :
Adik makan nasi.
Makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut.


  • Makna Konotasi

Kalau makna Denotasi adalah makna yang sebenarnya, maka seharusnya Makna Konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain. Terkadang banyak eksperts linguistik di Indonesia mengatakan bahwa makna konotasi adalah makna kiasan, padahal makna kiasan itu adalah tipe makna figuratif, bukan makna konotasi. Makna Konotasi tidak diketahui oleh semua orang atau dalam artian hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu. Misalnya Frase jam tangan.
Contoh:
Pak Slesh adalah seorang pegawai kantoran yang sangat tekun dan berdedikasi. Ia selalu disiplin dalam mengerjakan sesuatu. Pada saat rapat kerja, salah satu kolega yang hadir melihat kinerja beliau dan kemudian berkata kepada sesama kolega yang lain “Jam tangan pak Slesh bagus yah”.
Dalam ilustrasi diatas, frase jam tangan memiliki makna konotasi yang berarti sebenarnya disiplin. Namun makna ini hanya diketahui oleh orang-orang yang bekerja di kantoran atau semacamnya yang berpacu dengan waktu. Dalam contoh diatas, Jam Tangan memiliki Makna Konotasi Positif karena sifatnya memuji
Makna konotasi dibagi menjadi 2 yaitu konotasi positif  merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan, dan konotasi negatif merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan.


KALIMAT EFEKTIF (PENGERTIAN, CIRI DAN CONTOH KALIMAT EFEKTIF)
Posted on 16.30 by Widi Apriyadi
Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:
1.secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
Ciri-Ciri Kalimat Efektif
1.Kesepadanan
Suatu kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu unsur subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (K). Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam pemakaian struktur bahasa.
Contoh:
Budi (S) pergi (P) ke kampus (KT).
Tidak Menjamakkan Subjek
Contoh:
Tomi pergi ke kampus, kemudian Tomi pergi ke perpustakaan (tidak efektif)
Tomi pergi ke kampus, kemudian ke perpustakaan (efektif)
2.Kecermatan Dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
Dalam membuat kalimat efektif jangan sampai menjadi kalimat yang ambigu (menimbulkan tafsiran ganda).
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (ambigu dan tidak efektif).
Mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (efektif).
3.Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata yang berlebih akan mengaburkan maksud kalimat. Untuk itu, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan untuk dapat melakukan penghematan, yaitu:
a. Menghilangkan pengulangan subjek.
b. Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
d. Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
Karena ia tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (tidak efektif)
Karena tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (efektif)
Dia sudah menunggumu sejak dari pagi. (tidak efektif)
Dia sudah menunggumu sejak pagi. (efektif)
4.Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh:
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. (tidak efektif)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. (efektif)
5.Kesatuan atau Kepaduan
Kesatuan atau kepaduan di sini maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan kepaduan kalimat, yaitu:
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
c. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjurmeninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa kemanusiaan. (efektif)
Makalah ini membahas tentang teknologi fiber optik. (tidak efektif)
Makalah ini membahas teknologi fiber optik. (efektif)
6.Keparalelan atau Kesajajaran
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.
Contoh:

  1. Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
  2. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
  3. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
  4. Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
  5. Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (efektif)

7.Ketegasan
Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat. Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini. (ketegasan)
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. (ketegasan)
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (salah)
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (benar)
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengharukan.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu bodoh, tetapi pintar.
e. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh:
Dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku?
Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini.

 KALIMAT  TURUNAN
Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.
    a. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-
    b. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan –nya

2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.
    a. ber-an dan ber-i
    b. di-kan dan di-i
    c. diper-kan dan diper-i
    d. ke-an dan ke-i
    e. me-kan dan me-i
    f. memper-kan dan memper-i
    g. pe-an dan pe-i
    h. per-an dan per-i
    i. se-nya
    j. ter-kan dan ter-i

3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).
    a. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.
    b. Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh →             meluluh, me- + makan → memakan.
2. me- → mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.
3. me- → men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
4. me- → meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
5. me- → menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
6. me- → meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.
2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.
3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)
2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)
3. pe + perkosa → pemerkosa (huruf p luluh menjadi m)
4. pe + perhati → pemerhati (huruf p luluh menjadi m)

refrensi
http://juprimalino.blogspot.com/2011/12/makna-denotasi-dan-konotasi-contoh.html

http://herlambangprasetyo.blogspot.com/2011/10/pengertian-diksi-kalimat-efektif.html
http://astutimulefa.blogspot.com/2010/03/diksi.html
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
http://tugasmanajemen.blogspot.com/2011/04/pengertian-fungsi-dan-elemen-elemen.html
http://disclamaboy.wordpress.com/2012/11/02/diksi-pengertian-dan-macam-macamnya/
http://rizkyanraguta.blogspot.co.id/2013/10/diksi-kalimat-efektif-dan-kalimat.html